Beranda > Artikel, Seksologi > Menstruasi Bukan Petanda Wanita Siap Menikah

Menstruasi Bukan Petanda Wanita Siap Menikah

menstruasiKisah Syeh Puji yang menikahi anak masih sangat belia bukan saja terjadi di Indonesia, hasil survey dari Anita Raj dan koleganya dari Boston University School of Public Healt, Amerika Serikat menyebutkan bahwa separuh dari wanita di India yang berusia 20-24 tahun sudah menjadi pengantin waktu mereka belum berusia 18 tahun, usia perkawinan yang legal menurut hukum setempat untuk perempuan dan 22 persennya bahkan menikah sebelum berumur 16 tahun.

Seperti halnya India, di Indonesia atau negara lainnya pernikahan usia muda memang mendapatkan tempat dalam budaya, namun permasalahan sebenarnya bukanlah disana, menurut laporan Raj dan kawan-kawan menyebutkan bahwa tubuh perempuan dengan usia yang masih muda belia belum siap untuk bereproduksi dan mereka akan menjadi menderita.

Risiko yang akan muncul pada saat setelah melahirkan tiga anak dalam beberapa tahun yang sangat melelahkan dan kelahiran anak prematur. Sebagai perbandingan tingkat kematian bayi dari ibu yang terlalu belia melampaui kematian bayi dari ibu yang terlalu tua.

Masalahnya, menstruasi pada seorang anak perempuan sering dianggap sebagai pengesahan atau pertanda lompatan seorang perempuan muda menjadi perempuan  matang, padahal kenyataannya lompatan itu jauh lebih lambat daripada yang diindikasikan oleh pengalaman siklus bulanan menstruasi.  Kedatangan siklus menstruasi juga tidak benar-benar berarti si perempuan siap bereproduksi. Sebaliknya wanita muda belia mengalami apa yang dinamakan “adolescent sterility” (menstruasi tapi belum untuk ovulasi) dan bila dipaksa akan mengalami risiko karena organ reproduksi belum terbentuk sepenuhnya.

Laporan ini menyimpulkan bahwa tidak perduli dimanapun tempatnya dudunia ini,  apapun budaya dan agamanya, wanita belum siap bereproduksi sebelum mereka dewasa. Artinya setelah usia 18 tahun atau lebih, setelah perempuan belia tersebut mengalami beberapa tahun siklus menstruasi, barulah si perempuan tersebut benar-benar menjadi wanita matang.

Lewat budaya, kita memang sering menetukan masa reproduksi seorang perempuan belia, namun ilmu biologi membuat kita tahu akan batas-batasnya.

  1. 03/12/2009 pukul 3:11 pm | #1

    PERTAMAX . . . . .

  2. 08/05/2010 pukul 6:13 pm | #2

    bagus nih kontenya,..

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 245 pengikut lainnya.